WELCOME ON MY BLOG

Semoga blog ini dapat membantu dan bermanfaat bagi Anda,
jika ada hal-hal atau pengetahuan yang baru saya akan menerbitkannya

Senin, 04 April 2011

Landasan-Landasan Bimbingan dan Konseling


A   Landasan Filosofis
Kata filosofis atau filsafat berakusal dari bahasa Yunani: philos berarti cinta, dan Shopos berarti bijaksana. Menurut asal kata tersebut maka filosofis berari kecintaan terhadap kebijaksannaan. Lebih luas lagi, dalam kamus Webster New Universal memberikan pengertian bahwa filsafat merupakan pemikiran yang sedalam-dalamnya, seluas-luasnya, setinggi-tingginya, selengkap-lengkapnya, serta setuntas-tuntasnya tentang sesuatu masalah. Pemikiran tersebut mengarah kepada pemahaman tentang hakikat sesuatu. Hasil pemikiran tersebut dipakai sebagai dasar untuk bertindak, dan tentunya tindakan-tindakan yang bijaksana. Dengan kaitannya dengan ini, orang-orang yang bertindak dengan didasari pemikiran filosofis adalah orang yang bijaksana.
 Begitu juga dalam Pelayanan Bimbingan dan Konseling, diharapkan meliputi serangkaian kegiatan atau tindakan yang semuanya diharapkan merupakan tindakan yang bijaksana. Untuk itu diperlukan pemikiran filosofis tentang yang bersangkut paut dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling. Dengan pemikiran filosofis memungkinkan konselor menjadikan hidupnya sendiri lebih mantap, lebih fasilitatif, serta lebih efektif dalam penerapan upaya pemberian bantuannya.
Beberapa pemikiran filosofis yang terkait dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling:
·         Hakikat manusia
Para tokoh dunia mengupas hakikat manusia dari sudut pandang psikologis, perikehidupan manusia yang meliputi pola berpikir, persepsi, kesadaran, kepribadian, moral, kemauan, kepercayaan, dan sebagainya.
Beberapa deskripsi tentang hakikat manusia:
Ø  Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berpikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangandirinya.
Ø  Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya
Ø  Manusia berusaha terus menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri, khususnya melalui pendidikan
Ø  Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk; dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidak-tidaknya mengontrol keburukan.
Ø  Manusia adalah makhluk yang tertinggi dan termulia derajatnya. Keberadaan manusia dilengkapi dengan empat dimensi kemanusian (dimensi keindividualan, kesosialan, kesusilaan, dan keberagaman)
Hakikat manusia akan berkembang dari zaman ke zaman selama manusia itu ada. Namun untuk mengoptimalkan perwujudan kemanusian itu, upaya-upaya pendidikan, pembudayaan, dan konseling perlu dilakukan. Dari sisi lain, upaya-upaya pembudayaan, pendidikan, dan konseling perlu didasarkan pada pemahaman tentang hakikat manusia, agar upaya-upaya tersebut lebih efektif dan tidak menyimpang dari hakikat manusia itu sendiri.
·         Tujuan dan Tugas Kehidupan
Adler (1954), mengemukakan bahwa tujuan akhir dari kehidupan psikis adalah menjamin terus berlangsungnya eksistensi kehidupan kemanusian di atas bumi, dan memungkinkan terselesaikannya dengan aman perkembangan manusia. Sedangkan Jung (1958), melihat bahwa kehidupan psikis manusia mencari keterpaduan, dan didalamnya trdapat dorongan instinctual kea rah keutuhan dan hidup sehat (dalam Witner & Sweeney, 1992). Maslow (dalam Witner & Sweeney) menegaskan adanya daya upaya untuk terciptanya hidup yang sehat merupakan kecenderungan yang universal dalam kehidupan manusia. Witner & Sweeney (1992) mengajukan suatu model tentang kebahagian dan kesejahteraan hidup, serta upaya mengembngkan dan mempertahankan kehidupan. Kedua pemikir tersebut menjelaskan cirri-ciri hidup sehat sepanjang hayat dalam lima katagori tugas kehidupan, yaitu:
1.      Spiritualitas
Dalam kategori ini terdapat agama sebagai sumber inti bagi kehidupan. Agama sebagai sumber moral, etika, dan aturan-atura formal yang berlaku.
2.      Pengaturan diri
Sesorang yang sehat akan mampu menkoordinasikan hidupnya dengan pola tingkah laku yang bertujuan positif dan sesuai norma-norma yang berlaku.
3.      Bekerja
Dengan bekerja seseorang akan memperoleh keuntungan ekonmi, psikologis, dan keuntungan social.
4.      Persahabatan
Merupakan hubungan social. Persahabatan memberikan tiga dukungan utama, yaitu dalam bentuk dukungan emosional, keberadaan, dan informasi.
5.      Cinta

B.     Landasan Religius
Dalam kaitannya bagi layanan Bimbingan dan Konseling, landasan religius menekankan tiga hal pokok, yaitu:
1.      Keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam semesta adalah makhluk Tuhan,
2.      Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai kaidah-kaidah agama.
3.      Peranan agama terhadap individu dalam berasyarakat dan berbudaya.
Landasan religius dalam bimbingan dan konseling pada umumnya ingin menetapkan klien sebagai makhluk Tuhan dengan segenap kemuliaan kemanusiaannya. Konselor harus dapat menghidari kesalapahaman tentang implementasi landasan religius dalam pelayanannya, dan koselor juga harus dengan sangat hati-hati dan bijaksana menerapkan landasan religius itu terhadap klien yang berlatar belakang agama yang berbeda.

C.    Landasan Psikologis
Landasan psikologis da;lam hubungannya dengan Bimbingan dan Konseling aalah memberikan pemahaman tentang tingkah laku klien(sasaran layanan) dalam proses konseling. Mengingat bahwa sasaran pelayanan dari Bimbingan dan Konseling adalah tingkah laku itu sendiri, baik dalam pengembangan maupun pengubahan tingkah laku tersebut kea rah yang lebih baik. Untuk keperluan Bimbiungan dan Konseling, hal-hal yang perlu di kuasai dalam hubungannya dengan bidang psikologi, yaitu:
a.      Motif dan Motivasi
Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku..
b.      Pembawaan dan Lingkungan
Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan, yang mencakup aspek psiko-fisik. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada.
c.       Perkembangan Individu
Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya, diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial.
d.      Belajar
Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya, dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu.
e.       Kepribadian
Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang mencakup :
·   Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
·   Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
·   Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen.
·   Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, sedih, atau putus asa.
·   Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.
·   Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.

Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). Oleh karena itu, agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis, setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik, yaitu bidang psikologi umum, psikologi perkembangan, psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian.
D.    Landasan Sosial Budaya
Jika ditilik lebih mendalam, dalam keberadaan dan kehidupan manusia terdapat dimensi-dimensi kehidupan. Salah satunya adalh dimensi kesosialan. Sebagai makhluk social, manusia tidak pernah bias hidup seorang diri. Dan dalam hidup bersosial tersebut trdapat nilai-nilain norma social maupun pandangan hidup yang terpadu dalam system budaya.
Adapun dalam proses Bimbingan dan Konseling, dijumpai komunikasi yang melibatkan antara konselor dan klien yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Masalah yang sering dijumpai dalam proses komunikasi tersebut adalah perbedaan bahasa, perbedaan komunikasi nonverbal, stereotip, kecenderunagan menilai, dan juga kecemasan (Pedersen, dkk.1976).
Dalam kaitannya dengan sosil budaya seseorang konselor ditekankan bahwa betapa pentingnya dan perlunya sikap memahami, menghargai dan menjadikan pertimbangan utama segenap aspek lingkungan social budaya yang berpengaruh terhadap tingkah laku klien.

E.     Landasan Ilmiah dan Teknologi
Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan professional yang memiliki dasar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori-teorinya, pelaksanaan kegiatannya, maupun pengembangan-pengembangan layanan itu secara berkelanjutan.
·            Keilmuan Bimbingan dan Konseling
Ilmu bimbingan dan konseling adalah berbagai pengetahuan tentang bimbingan dan konseling yang tersusun secara logis dan sistematik. Sebagai layaknya ilmu-ilmu yang lain, ilmu bimbingan dan konseling mempunyai objek kajiannya sendiri, metode pengalihan pengetahuan yang menjadi ruang lingkupnya, dan sistematika pemaparannya.
Objek kajian bimbingan dan konseling ialah upaya bantuan yang diberikan kepada individu yang mangacu pada ke-4 fungsi pelayanan yakni fungsi pemahaman, pencegahan, pengentasan dan pemeliharaan/ pengembangan. Dalam menjabarkan tentang bimbingan dan konseling dapat digunakan berbagai cara/ metode, seperti pengamatan, wawancara, analisis document (Riwayat hidup, laporan perkembangan), prosedur teks penelitian, buku teks, dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya mengenai obyek kajian bimbingan dan konseling merupakan wujud dari keilmuan bimbingan dan konselinng.
·            Peran Ilmu Lain dan Teknologi dalam Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat multireferensial, artinya ilmu dengan rujukan berbagai ilmu yang lain. Misalnya ilmu statistik dan evaluasi memberikan pemahaman dan tehnik-tehnik. Pengukuran dan evaluasi karakteristik individu; biologi memberikan pemahaman tentang kehidupan kejasmanian individu. Hal itu sangat penting bagi teori dan praktek bimbingan dan konseling.
·            Pengembangan Bimbingan Konseling Melalui Penelitian
Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling boleh jadi dapat dikembangkan melalui proses pemikiran dan perenungan, namun pengembangan yang lebih lengkap dan teruji didalam praktek adalah apabila pemikiran dan perenungan itu memperhatikan pula hasil-hasil penelitian dilapangan. Melalui penelitian suatu teori dan praktek bimbingan dan konseling menemukan pembuktian tentang ketepatan/ keefektifan dilapangan. Layanan bimbingan dan konseling akan semakin berkembangan dan maju jika dilakukan penelitian secara terus menerus terhadap berbagai aspek yang berhubungan dengan BK.
F.     Landasan Pedagogis
Pendidikan itu merupakan salah satu lembaga sosial yang universal dan berfungsi sebagai sarana reproduksi sosial ( Budi Santoso, 1992). Dalam hal ini, pendidikan ditinjau sebagai landasan Bimbingan danKonseling dari tiga segi, yaitu:
a. Pendidikan sebagai upaya pengembangan Individu: Bimbingan merupakan   bentuk upaya pendidikan.
Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Seorang bagi manusia hanya akan dapat menjadi manusia sesuai dengan tuntutan budaya hanya melalui pendidikan. Tanpa pendidikan, bagi manusia yang telah lahir itu tidak akan mampu memperkembangkan dimensi keindividualannya, kesosialisasinya, kesusilaanya dan keberagamaanya. Undang-Undang No. 2 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menetapkan pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
b. Pendidikan sebagai inti Proses Bimbingan Konseling.
Bimbingan dan konseling mengembangkan proses belajar yang dijalani oleh klien-kliennya. Kesadaran ini telah tampil sejak pengembangan gerakan Bimbingan dan Konseling secara meluas di Amerika Serikat . pada tahun 1953, Gistod telah menegaskan Bahwa Bimbingan dan Konseling adalah proses yang berorientasi pada belajar……, belajar untuk memahami lebih jauh tentang diri sendiri, belajar untuk mengembangkan dan merupakan secara efektif berbagai pemahaman.

c. Pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan Bimbingan tujuan dan konseling.
Tujuan Bimbingan dan Konseling disamping memperkuat tujuan-tujuan pendidikan, juga menunjang proses pendidikan pada umumnya. Hal itu dapat dimengerti karena program-program bimbingan dan konseling meliputi aspek-aspek tugas perkembangan individu, khususnya yang menyangkut kawasan kematangan pendidikan karier, kematangan personal dan emosional, serta kematangan sosial, semuanya untuk peserta didik pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SLTP) dan pendidikan menengah (Borders dan Drury, 1992). Hasil-hasil bimbingan dan konseling pada kawasan itu menunjang keberhasilan pendidikan pada umumnya.

1 komentar: